Berita dan Kegiatan

Perkuat UKM berorientasi Ekspor, Indonesia Eximbank Buka Kantor Pemasaran di Denpasar

December 08, 2016 - Source :

Bali, 8 Desember 2016 – Indonesia Eximbank terus memperkuat dukungan untuk pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) berorientasi ekspor. Salah satunya dengan meresmikan Kantor Pemasaran di Denpasar, Bali hari ini (Kamis, 8 Desember 2016).

Provinsi Bali merupakan provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang solid dan potensi ekspor yang besar, termasuk untuk segmentasi UKM. Selama lima tahun terakhir, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Bali berada di atas pertumbuhan PDB nasional. Pada tahun 2015 dan triwulan III – 2016, pertumbuhan ekonomi Bali tercatat 6,04% dan 6,17% di atas pertumbuhan ekonomi nasional, yaitu 4,79% dan 5,02% (Sumber: Bank Indonesia). Ekonomi Bali (2015) ditopang oleh tiga sektor ekonomi utama: Perdagangan, Restoran dan Hotel (28,4%); Pertanian, Kehutanan dan Perikanan (14,5%); dan Transportasi, Pergudangan dan Komunikasi (14,0%).

Pada tahun 2015, tercatat hampir 500 perusahaan/pelaku ekspor yang berkontribusi terhadap total ekspor Provinsi Bali tahun 2015 yaitu USD498,7 juta. Adapun lima komoditas utama terbesar yang diekspor adalah Ikan dan Udang; Perhiasan/Permata; Pakaian Jadi Bukan Rajutan; Perabot, Penerangan Rumah; dan Kayu dan Barang dari Kayu. Pada bulan Oktober 2016, nilai ekspor barang Provinsi Bali mencapai USD40,5 juta, naik 1,18% yoy dari periode yang sama tahun sebelumnya (USD40 juta). Potensi ekspor tersebut didukung oleh rencana pemerintah daerah Provinsi Bali untuk meningkatkan utilitas Pelabuhan Benoa sebagai pelabuhan utama ekspor Provinsi Bali. guna membantu pelaku ekspor menurunkan biaya distribusi dan logistik barang berorientasi ekspor.

Hadirnya Kantor Pemasaran di Bali sebagai representasi Indonesia Eximbank di wilayah Indonesia bagian tengah, secara geografis diharapkan mempermudah para pelaku usaha di industri UMKM berorientasi ekspor di Provinsi Bali dan sekitarnya, seperti Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur untuk menjangkau akses pembiayaan, penjaminan dan asuransi.

Direktur Eksekutif Indonesia Eximbank, Ngalim Sawega menekankan bahwa Indonesia Eximbank berkomitmen untuk terus menjalankan perannya dalam memberikan layanan pembiayaan ekspor dengan suku bunga kompetitif, fasilitas penjaminan dan asuransi yang dapat meminimalisir risiko dalam aktivitas ekspor.

Selain melalui pembiayaan, penjaminan dan asuransi, Indonesia Eximbank berupaya meningkatkan kapasitas UKM melalui jasa konsultasi yang diwujudkan melalui Coaching Program for New Exporter (CPNE), yaitu sebuah program berkelanjutan dimana calon eksportir memperoleh pelatihan dan bimbingan, pendidikan, pameran dan pendampingan selama periode tertentu hingga mampu melakukan ekspor perdana. Selama tahun 2015 misalnya, Indonesia Eximbank telah melahirkan 4 pelaku UKM yang berhasil melakukan ekspor perdana produk ke sejumlah negara: (1) serat kapuk ke Italia, (2) furnitur berbahan jati ke Singapura, (3) Serbuk Kelapa (Cocopeat) ke Hongkong dan Tiongkok, dan (4) fermentasi kakao ke Prancis. Sementara itu, sampai dengan triwulan III – 2016, telah terdapat 3 eksportir baru dari kegiatan CPNE tersebut yang berhasil mengekspor produknya secara perdana ke sejumlah negara: (1) tepung cassava ke Inggris, (2) sapu glagah/rayung ke Pakistan, dan (3) lantai batu alam ke Tiongkok.

Pada tahun 2016, jasa konsultasi yang telah dilaksanakan oleh Indonesia Eximbank di Provinsi Bali mengambil tema “Peningkatan Kapasitas Petani Kakao”. Hal tersebut mempertimbangkan kakao merupakan salah satu produk ekspor potensial asal Bali dan sektor perkebunan kakao mampu menyerap tenaga kerja cukup tinggi (padat karya). Pada tahun 2015, salah satu eksportir perdana dari hasil CPNE Indonesia Eximbank berasal dari Provinsi Bali, dimana eksportir tersebut telah menerima pelatihan peningkatan mutu dan volume kakao, sehingga mampu memproduksi produk fermentasi kakao berkualitas yang diekspor ke Prancis.

Ngalim Sawega memaparkan bahwa ke depannya, Indonesia Eximbank akan terus melaksanakan fungsinya sebagai fiscal tools pemerintah dalam memberikan pembiayaan, penjaminan dan asuransi serta jasa konsultasi baik melalui penugasan umum dan penugasan khusus (National Interest Account). Bentuk dukungan pembiayaan kepada sektor UKM ekspor ke depannya dapat dilaksanakan melalui pemberian Kredit Usaha Rakyat Berorientasi Ekspor (KURBE), dimana terdapat kerja sama ataupun sinergi antara UKM sebagai plasma dengan pengusaha besar sebagai inti. Fasilitas pembiayaan ini diharapkan dapat memberikan stimulus kepada UKM untuk meningkatkan daya saing produk ekspor berbasis kerakyatan. Peningkatan kualitas dan kapasitas UKM ke depannya juga akan terus dilaksanakan dengan memberikan pelatihan dan capacity building yang dibutuhkan para pelaku UKM di berbagai daerah, dengan memperhatikan potensi ekspornya, termasuk Provinsi Bali.

Secara khusus, untuk pembiayaan kepada segmen Usaha Kecil dan Menengah (UKM) berorientasi ekspor, Indonesia Eximbank berencana meningkatkan pertumbuhan sekitar 40% yoy pada tahun 2017. Pertumbuhan pembiayaan UKM ekspor yang ekspansif ini akan diberikan dengan tingkat suku bunga yang kompetitif dan proses pembiayaan yang lebih cepat dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian. Adapun penyaluran pembiayaan segmen UKM ekspor disalurkan melalui empat skema, yaitu (i) pembiayaan kepada eksportir langsung (direct financing), (ii) pembiayaan kepada supplier eksportir (business linkage), (iii) penerusan pembiayaan kepada Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB) dengan underlying ekspor, dan (iv) pembiayaan kembali kepada Lembaga Keuangan Bank (LKB) dengan underlying ekspor. Dengan demikian, semakin banyak pelaku UKM berorientasi ekspor yang dapat menerima manfaat layanan Indonesia Eximbank. (IEB)