Berita dan Kegiatan

Indonesia Eximbank Bantu Ekspor Petani Kakao di Jembrana Bali

October 08, 2015 - Source :

Teman-teman yang dulu memangkas pohon, sekarang menyesal. Saya dulu hanya pangkas ujung-ujungnya saja, karena masih yakin dengan kakao,” ujar Wayan Ratha, seorang petani kakao di Desa Nusasari, Kabupaten Jembrana. Ratha mewakili puluhan petani kakao dari lima Subak Abian (lahan kering) di Kabupaten Jembrana yang tergabung dalam Koperasi Kerta Semaya Samaniya. Koperasi itu mewadahi sekitar 788 orang petani kakao dari 22 subak di seluruh Jembrana, yang memilih tidak memangkas pohon kakao, kendati pernah mendapatkan serangan hebat dari hama penggerek buah kakao (PBK). 

Pada Rabu (7/10), Koperasi Kerta Semaya memecahkan persepsi jika koperasi tidak bisa bersaing dengan globalisasi dengan berhasil melakukan ekspor perdana sebanyak 12,5 ton biji kakao fermentasi ke perusahaan coklat Valrhona di Prancis. Valrhona adalah perusahaan coklat terbaik di dunia yang menerapkan aturan sangat ketat dalam produksinya. Ekspor itu menjadi semacam tonggak keberhasilan petani dan ko perasi dalam upaya menempatkan posisi mereka sejajar dengan pembeli. Keberhasilan koperasi tersebut juga menunjukkan salah satu badan usaha yang diakui UUD 1945 terse but mampu bersaing di era pasar be bas. 

Menurut Ketua Koperasi Kerta Semaya Samaniya I Ketut Wiad nyana, keberhasilan itu memperlihatkan kemampuan petani dan koperasi yang mampu memenuhi standar internasional dan menjadi penyangga ekonomi masyarakat bawah. Dia menuturkan, biji fermentasi kakao ke Prancis dihargai Rp45.000 per kg, jauh melebihi harga pasaran Rp35.000 per kg. 

Dengan harga setinggi itu, petani seperti Ratha yang memiliki lahan kakao seluas 7.750 meter persegi mampu mendapatkan penghasilan hingga Rp1 juta per minggu, dari sebelumnya Rp500.000 per bulan. Namun, cerita manis tersebut tidak diraih dalam semalam. Wiadnyana menuturkan, koperasi itu dibentuk sejak 2006, dan ditujukan untuk mewadahi potensi unggulan kakao di Jembrana.

Wadah dibentuk, karena pada ketika itu, komoditas kakao di Jembrana mulai ditinggalkan oleh petani karena stres dengan serangan PBK. Upaya mempertahankan komoditas kakao menjadi unggulan daerah terus ditingkatkan, karena kakao produksi Jembrana diklaim memiliki aroma khas, dan kandungan lemaknya cukup tinggi.

Usaha koperasi itu mulai menemui titik terang ketika Yayasan Kalimajari membantu membangkitkan peran koperasi dalam mempertahankan potensi kakao dalam program Kakao Lestari atau UTZ Certified pada 2011. Ada 22 subak dilibatkan dalam program yang meliputi pelatihan kapasitas petani dan membuka akses terhadap kebijakan serta permodalan untuk keberlanjutan. 

“Dampaknya luar biasa, sebelum ada kakao lestari, petani menjual ke tengkukak dengan harga biasa-biasa saja. Sebelum itu, petani malas pelihara kebun, sekarang setelah ada pelatihan tata cara budaya yang baik mulai pelihara kebun sanitasi, perbaikan mutu harga mengikuti.” 

TANTANGAN

Direktur Kalimajari Agung Widiastuti selaku pendamping koperasi menuturkan, menyatukan persepsi 22 subak abian dalam program ini tidak mudah. Tantangan terberat adalah sudah turun-temurunnya sistem perdagangan individual pasrah dan belum adanya kualitas. Usaha pantang menyerah itu mulai menunjukkan hasil ketika pada 2013, PT Papandayan Cocoa Industry Barry Callebaut menampung produk dari Koperasi Kerta Semaya Samaniya. Pada September lalu, pengiriman biji kakao ke perusahaan di Bandung itu sudah mencapai 18,5 ton dan rencananya akan bertambah 10,5 ton lagi. 

Dia menuturkan, ekspor ke Prancis juga tidak mudah. Mereka awalnya mengajukan 10 anggota subak, tetapi hanya lima subak dinyatakan layak. Setelah itu, hasil produksi lima subak harus diuji secara acak untuk dites benar-benar sesuai standar internasional. 

Sebetulnya, Valrhona meminta agar dikirim sebanyak 5 ton biji kakao fermentasi. Bahkan, produsen cokelat ternama di Eropa itu siap membuat produk asli Jembrana. Sayangnya, keterbatasan produksi karena masalah permodalan bagi koperasi menjadi persoalan. Saat ini, akses permodalan bagi koperasi tersebut sangat terbatas sehingga tidak jarang ada anggota yang meminjam uang di masingmasing subak.

“Proses ini sekaligus menegaskan bahwa Subak Abian sebagai pranata sosial terbukti bukan hanya jargon kebang gaan, tetapi mampu meningkatkan pe rannya dalam bentuk ekonomi produktif.”

Direktur Pelaksana IV Indonesia Eximbank Arif Setiawan mengaku sungguh membanggakan melihat petani kakao di Jembrana menembus pasar ekspor. Keterlibatan wadah koperasi juga menurutnya bagian penting dalam mata rantai usaha petani. Indonesia Eximbank terlibat sejak awal mendampingi dan membiayai sertifikasi Koperasi Kerta Semaya Samaniya. Rencananya, salah satu perusahaan milik negara ini akan membantu meningkatkan nilai tambah produk kakao Jembrana. 

“Ini bukan sekedar wacana atau gagasan, tetapi buah hasil dari upaya menjadikan koperasi sebagai soko guru dan lebih senangnya lagi meski koperasi tetapi berhasil memenuhi kualitas ekspor,” tegasnya. Bupati Jembrana I Putu Artha berpesan koperasi ini ke depannya mampu mewadahi petani ketimbang harus mengandalkan tengkulak yang membeli ke rumah-rumah. “Kemarin perdana ke Berry Calleabout, terus sekarang perdana ekspor ke luar negeri. Nanti tinggal ekspor ke luar angkasa,” selorohnya.

Sumber : Bisnis Indonesia, Kamis 8 Oktober 2015