Berita dan Kegiatan

Business Gathering dalam rangka Sewindu Indonesia Eximbank

August 11, 2017 - Source :

Acara ini menghadirkan dua narasumber yang dihadiri oleh  kalangan pengusaha, asosiasi, dan sejumlah perwakilan pemerintah atau K/L terkait. Business gathering diharapkan menjadi sarana untuk berbagi pengetahuan (knowledge sharing) dan menjalin jaringan (networking) di antara para stakeholders Indonesia Eximbank.

Pelaksana tugas (Plt) Direktur Eksekutif Indonesia Eximbank, Susiwijono Moegiarso, mengawali sambutannya dengan menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi kepada pemerintah dan eksportir yang telah bersinergi dengan Indonesia Eximbank dalam menyediakan Pembiayaan, Penjaminan, Asuransi dan Jasa Konsultasi di tanah air, termasuk kawasan Sumatera Utara dan sekitarnya. Di tengah pemulihan ekonomi global dan perbaikan pertumbuhan nilai ekspor Indonesia di sepanjang semester 1 2017 (tumbuh 14,03% yoy), Indonesia Eximbank berkomitmen untuk mengoptimalkan perannya dan terus membuat terobosan dalam pengembangan produk dan skim bisnis untuk merespon dinamika global yang berubah dengan cepat dan memenuhi kebutuhan eksportir.

Bambang P.S. Brodjonegoro, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) hadir dan menyampaikan keynote speaker. Pemaparan yang disampaikan terkait dengan perkembangan ekonomi global dan regional yang mulai menunjukkan sinyal perbaikan dan mempengaruhi mulai rebound-nya harga-harga komoditas dunia. Perkembangan ini menjadi sinyal yang baik bagi prospek ekspor Indonesia ke depan. Untuk peningkatan kinerja ekspor lebih lanjut tentunya diperlukan kebijakan Pemerintah yang mendukung pelaku usaha, produk ekspor dan strategi menembus pasar baru. Dalam hal ini, Indonesia Eximbank memiliki peran strategis yang besar dan merupakan bagian dari kebijakan ekspor pemerintah.)

Dalam pemaparannya, Dwi Wahyudi, Direktur Pelaksana Indonesia Eximbank yang membawahi unit Pembiayaan korporasi, menyampaikan bahwa Indonesia Eximbank terus melaksanakan mandatnya baik melalui skim komersial maupun penugasan khusus atau National Interest Account (NIA) yang secara komersil sulit dilaksanakan namun dianggap perlu oleh Pemerintah untuk menunjang ekspor nasional. Setelah melaksanakan NIA berupa Pembiayaan gerbong kereta api ke Bangladesh dan pembiayaan tekstil dan furnitur dalam rangka menopang ketahanan usaha industri di dalam negeri pada tahun 2016, Indonesia Eximbank kembali memperoleh mandat sebagaimana ditetapkan pada KMK No.374/KMK.08/2017 untuk melaksanakan NIA melalui pembiayaan ekspor gerbong penumpang kereta api ke Bangladesh dengan alokasi dana sebesar Rp 1 triliun pada tahun 2017. Selain itu, Indonesia Eximbank terus berinisiasi untuk melakukan sejumlah terobosan dan pengembangan produk yang juga lazim dilaksanakan oleh Eximbank/ECA lainnya di dunia, antara lain melalui skema counter trade.  Skema ini diharapkan dapat menjawab tantangan yang dihadapi eksportir dalam bermitra dengan buyer yang membutuhkan produk asal Indonesia namun berasal dari negara dengan risiko cukup tinggi.

Kinerja Indonesia Eximbank Semester 1 – 2017

Sampai dengan Juni 2017, Total Aset Indonesia Eximbank sebesar Rp108,38 triliun, di mana Rp96,82 triliun merupakan aktivitas Pembiayaan. Pembiayaan Usaha Kecil Menengah berorientasi ekspor (UKME) tercatat sebesar Rp11,12 triliun atau 11,5% dari total Pembiayaan. Pencapaian ini mencerminkan keberpihakan Indonesia Eximbank terhadap UKME. Indonesia Eximbank juga terus meningkatkan fasilitas Penjaminan dan Asuransi kepada eksportir untuk memberikan proteksi dan rasa aman kepada pelaku usaha berorientasi ekspor dalam menghadapi berbagai risiko. Sepanjang semester 1-2017, aktivitas Penjaminan dan Asuransi masing-masing mencapai Rp8,41 triliun dan Rp9,97 triliun.

Dalam rangka pelaksanaan mandat, beberapa capaian yang berhasil dilaksanakan antara lain (i) penyaluran PEN kepada debitur dengan negara tujuan ekspor pasar non tradisional, (ii) penyaluran PEN pada komoditi potensial dan jasa terkait ekspor, dan (iii) penyaluran PEN pada industri bernilai tambah.

Selain melalui pembiayaan, penjaminan dan asuransi, dukungan Indonesia Eximbank kepada UKM juga diwujudkan melalui Jasa Konsultasi. Salah satu bentuk Jasa konsultasi yaitu melalui Coaching Program for New Exporter (CPNE). CPNE merupakan program berkelanjutan yang ditujukan bagi rintisan eksportir baru dengan cara melatih dan mempersiapkan pelaku UKM untuk menjadi eksportir baru melalui sosialisasi, pelatihan, pameran, bimbingan dan kegiatan lainnya kepada cluster (komunitas pelaku usaha) dan non cluster (individu UKM). Selama semester 1-2017 Indonesia Eximbank telah melahirkan 3 pelaku UKME baru yang berhasil melakukan ekspor perdana untuk produk furnitur.

Dukungan Indonesia Eximbank di Sumatera, khususnya Sumatera Utara

Pada semester I 2017, perekonomian Sumatera tumbuh di level 4,09% yoy, melambat dibandingkan pertumbuhan semester sebelumnya (4,26% yoy).  Sumatera Utara, sebagai kontributor utama perekonomian Sumatera (porsi 22,86% total PDRB Sumatera) tumbuh di level 4,80% yoy, melambat dari pertumbuhan semester sebelumnya (5,27% yoy). Berdasarkan pengeluaran, struktur ekonomi Sumatera Utara didominasi oleh komponen konsumsi rumah tangga sebesar 53,39%, diikuti  Ekspor Barang dan Jasa sebesar 36,08%, dan Investasi sebesar 31,17%. Sejalan dengan itu, kinerja ekspor Sumatera Utara pada semester I 2017 tercatat sebesar Rp119,97 triliun (Eq.USD9,0 miliar) atau tumbuh sebesar 4,41% yoy dari periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp114,90 triliun (Eq.USD8,7 miliar). Jenis komoditas ekspor utama Sumatera Utara antara lain CPO, Karet dan Produk Karet, Produk Kimia dan Organik, Kopi, Teh, Rempah dan Buah-buahan menunjukkan pertumbuhan yang positif.

Pada semester I 2017, pembiayaan Indonesia Eximbank ke wilayah Sumatera telah mencapai Rp8,49 triliun (porsi 8,77% dari total), dimana sebesar Rp1,37 triliun disalurkan ke wilayah Sumatera Utara. Pembiayaan UKME di Sumatera mencapai porsi 13% dari total pembiayaan ekspor di Sumatera atau setara Rp1,1 triliun, dimana Rp807,23 miliar disalurkan oleh Kantor Wilayah Medan. Adapun pembiayaan terbesar di Sumatera disalurkan kepada komoditas CPO dengan porsi 56,59%, diikuti oleh sektor infrastruktur (9,31%), karet (3,93%), jasa pengangkutan (3,71%) dan kopi (3,30%).